Kebangkitan Oposisi: Naftali Bennett dan Yair Lapid Bersatu Gulingkan Benjamin Netanyahu
Kebangkitan Oposisi: Naftali Bennett dan Yair Lapid Bersatu Gulingkan Benjamin Netanyahu
TEL AVIV – Panggung politik Israel kembali diguncang oleh manuver radikal dari dua mantan pemimpin negara tersebut. Naftali Bennett dan Yair Lapid, duo yang pernah meruntuhkan dominasi Benjamin Netanyahu pada 2021, resmi mengumumkan pembentukan koalisi baru bernama "Bersama" (Together) untuk menantang sang petahana dalam pemilu mendatang. Aliansi ini menyatukan dua kutub ideologi yang berseberangan—sayap kanan relijius dan sentris sekuler—dengan satu tujuan tunggal: mengakhiri era kepemimpinan Netanyahu yang kini didera kritik tajam.
Baca Juga Aliansi Moskow-Pyongyang Menguat: Vyacheslav Volodin Apresiasi Peran Pasukan Kim Jong Un di Kursk
Penggabungan partai "Bennett 2026" dan "There is a Future" (Yesh Atid) ini diumumkan melalui pernyataan bersama yang disiarkan televisi nasional pada Minggu malam. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk menyatukan blok oposisi yang selama ini terpecah-pecah. Bagi Bennett, ini adalah momen patriotik untuk menyelamatkan negara dari apa yang disebutnya sebagai krisis kepemimpinan terdalam dalam sejarah Israel.
"Malam ini, bersama sahabat saya Yair Lapid, saya mengambil langkah paling Zionis untuk negara kami," ujar Bennett. Lapid, meski mengakui perbedaan ideologis mereka, menegaskan bahwa kepercayaan pribadi adalah fondasi utama aliansi ini. Ia menyebut langkah tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri perpecahan internal dan memfokuskan energi guna memenangkan pemilu yang diperkirakan berlangsung pada akhir tahun 2026.
Janji Investigasi Skandal 7 Oktober
Salah satu senjata utama yang diusung koalisi "Bersama" adalah janji untuk membentuk komisi penyelidikan nasional yang independen. Bennett berkomitmen untuk membedah secara tuntas kegagalan intelijen dan militer yang berujung pada tragedi 7 Oktober 2023. Hingga saat ini, pemerintahan Netanyahu terus menolak tekanan publik untuk melakukan audit internal yang transparan terkait serangan mengejutkan Hamas tersebut.
Kritik terhadap Netanyahu juga mencakup kebijakan luar negeri terbarunya. Lapid secara terbuka menyebut kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai sebuah "bencana politik" yang melemahkan posisi tawar Israel di kawasan. Bagi oposisi, Netanyahu telah kehilangan kompas strategis dalam menangani perang yang berkecamuk, sementara ketegangan dengan Teheran semakin memperumit stabilitas nasional.
Kekuatan Jajak Pendapat dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Meskipun koalisi ini menawarkan harapan baru, sejarah mencatat bahwa kerja sama Bennett-Lapid sebelumnya memiliki umur yang pendek. Pemerintahan "Perubahan" yang mereka bentuk pada 2021 hanya bertahan kurang dari 18 bulan sebelum akhirnya kolaps dan memberikan jalan bagi kembalinya Netanyahu. Namun, dinamika pasca-perang tampaknya memberikan momentum berbeda kali ini.
Sosok Bennett, seorang mantan komandan pasukan khusus yang beralih menjadi pengusaha teknologi sukses, kini menjadi magnet elektoral yang kuat. Jajak pendapat terbaru dari N12 News Israel menunjukkan tren positif bagi sang mantan PM. Partai barunya diprediksi mampu meraup 21 kursi di Knesset (parlemen Israel), menempel ketat Partai Likud pimpinan Netanyahu yang diproyeksikan mengamankan 25 kursi dari total 120 kursi yang tersedia.
Selisih tipis ini setara dengan hanya segelintir kursi parlemen, namun dampaknya secara psikologis sangat besar bagi publik Israel yang merindukan alternatif kepemimpinan. Jika Bennett berhasil mengonsolidasi dukungan dari pemilih kanan moderat yang kecewa pada Netanyahu, peta politik Israel dipastikan akan mengalami pergeseran tektonik. Pertarungan akhir tahun ini bukan sekadar soal siapa yang memimpin, melainkan arah masa depan keamanan Israel di tengah kepungan krisis regional yang belum mereda.

.png)