Gara-Gara Beda Pendapat Soal Iran, Trump Tarik 5.000 Tentara dari Jerman!
WASHINGTON – Departemen Pertahanan Amerika Serikat resmi mengumumkan penarikan 5.000 personel militer dari Jerman, sebuah langkah drastis yang menandai keretakan terdalam dalam aliansi transatlantik sejak berakhirnya Perang Dingin. Keputusan Pentagon yang dirilis pada Jumat (1/5) ini merupakan balasan langsung Presiden Donald Trump terhadap kritik tajam Berlin terkait strategi militer Washington dalam konflik melawan Iran.
Ketegangan mencapai titik didih setelah Kanselir Jerman, Friedrich Merz, secara terbuka menyebut pembicaraan damai yang dipimpin AS sebagai sebuah "penghinaan" dan menuding Washington tidak memiliki strategi keluar (exit strategy) yang jelas. Perselisihan ini bukan sekadar debat diplomatik, melainkan guncangan pada fondasi NATO di tengah krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Retaliasi Terbuka Terhadap Kritik Berlin
Seorang pejabat senior Pentagon, yang berbicara secara anonim, menegaskan bahwa retorika Jerman baru-baru ini "tidak pantas dan sama sekali tidak membantu." Langkah penarikan ini dipandang sebagai bentuk pendisiplinan terhadap sekutu yang dianggap tidak loyal. "Presiden mengambil tindakan yang tepat untuk merespons pernyataan-pernyataan yang kontraproduktif tersebut," ujar pejabat itu.
Penarikan pasukan ini ditargetkan rampung dalam waktu enam hingga dua belas bulan. Saat ini, Jerman menampung sekitar 35.000 personel aktif AS—populasi militer Amerika terbesar di Benua Biru. Pengurangan 5.000 tentara ini secara efektif mengembalikan postur pertahanan AS di Eropa ke level sebelum tahun 2022, sebelum eskalasi di Ukraina memicu pengerahan besar-besaran di bawah pemerintahan Joe Biden.
Bagi Gedung Putih, langkah ini selaras dengan doktrin "Eropa Pertama" milik Trump yang menuntut negara-negara Benua Hijau menjadi penyedia keamanan utama bagi diri mereka sendiri. Namun, bagi para analis, ini adalah peringatan keras tentang kesediaan Trump untuk menghukum siapa pun yang dianggap melakukan pengkhianatan politik.
Efek Domino: Ancaman Terhadap Spanyol dan Italia
Langkah terhadap Jerman kemungkinan besar hanyalah awal dari perombakan total militer AS di Eropa. Trump mengisyaratkan bahwa Italia dan Spanyol bisa menjadi target berikutnya. Ketegangan dengan Madrid memuncak setelah pemerintahan Sosialis Spanyol melarang penggunaan Pangkalan Angkatan Laut Rota dan Pangkalan Udara Morón untuk melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Sentimen serupa menghantam hubungan Washington dengan Roma. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu ideologis dekat Trump, kini disebut "kurang berani" oleh sang Presiden. Friksi ini diperburuk oleh kritik Trump terhadap Paus Leo, yang semakin menjauhkan hubungan personal kedua pemimpin.
Kekecewaan Trump semakin mendalam karena para sekutu NATO enggan mengirimkan armada angkatan laut mereka untuk membantu pembukaan blokade Selat Hormuz. Jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia itu kini praktis lumpuh, memicu inflasi energi global yang setara dengan guncangan krisis minyak tahun 1970-an.
Diplomasi yang Runtuh di Tanah Jerman
Kanselir Merz bersikeras bahwa Eropa tidak pernah dimintai pendapat sebelum AS dan Israel memulai kampanye militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Ketidakpuasan ini memicu kegelisahan di kalangan internal militer Jerman. Mereka mengklaim telah memberikan dukungan logistik maksimal, mulai dari izin penerbangan lintas wilayah hingga fasilitas medis di rumah sakit militer Landstuhl, yang merupakan fasilitas perawatan terbesar AS di luar daratan Amerika.
Meski Jerman baru saja menyetujui lonjakan anggaran pertahanan untuk tahun 2027, upaya tersebut tampaknya belum cukup untuk melunakkan hati Washington. Trump memiliki sejarah panjang keinginan untuk merampingkan kehadiran militer di Jerman, sebuah rencana yang sempat dijegal oleh suksesi kepemimpinan sebelumnya namun kini kembali dengan momentum penuh.
Imran Bayoumi, pengamat dari Atlantic Council dan mantan pejabat Pentagon, memperingatkan bahwa langkah ini berisiko memperlebar jurang kepercayaan antara kedua benua. "Para pemimpin Eropa kemungkinan besar akan mempercepat kemandirian pertahanan mereka, karena memandang Washington sebagai mitra yang semakin sulit ditebak," jelas Bayoumi.
Sebagai konsekuensi teknis dari keputusan ini, satu tim tempur brigade akan segera ditarik dari Jerman. Selain itu, pengerahan batalion penembak jarak jauh yang sebelumnya telah dijadwalkan oleh pemerintahan lama dipastikan batal, menandai berakhirnya era ekspansi kehadiran militer AS di jantung Eropa.
