ISRAEL BERGUNCANG! 3 Jenderal Senior Tuduh Netanyahu Membajak Negara!

ISRAEL BERGUNCANG! 3 Jenderal Senior Tuduh Netanyahu Membajak Negara!


Ketegangan politik dan militer di Israel kembali memuncak. Tiga mantan pejabat senior negeri itu melontarkan kritik pedas terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menuduh rezim saat ini telah “membajak” negara dan gagal total dalam perang melawan Iran.

Pernyataan ini muncul menjelang peringatan ke-78 kemerdekaan Israel (menurut kalender Ibrani), sebuah momentum yang biasanya dipenuhi dengan refleksi nasional. Namun kali ini, refleksi itu berubah menjadi tudingan keras terhadap kepemimpinan Netanyahu.

Kritik Halutz dan Yaalon: Israel Dibajak

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Dan Halutz dan mantan Menteri Pertahanan Moshe Yaalon menulis artikel di surat kabar Haaretz. Mereka menyebut pemerintahan Netanyahu sebagai rezim yang memandang sumber daya negara sebagai milik pribadi.

“Israel telah dibajak oleh rezim yang memandang sumber daya negara sebagai milik pribadi mereka sendiri,” tulis keduanya.

Halutz dan Yaalon menggambarkan pemerintah sebagai pihak yang terlepas dari realitas warganya, bertindak seolah-olah negara adalah milik pribadi Netanyahu, istrinya Sara, dan Menteri Transportasi Miri Regev.

Mereka juga menyerukan masyarakat untuk “mengambil kembali kendali atas negara ini” menjelang pemilu yang diperkirakan berlangsung Oktober mendatang.

Ehud Barak: Kegagalan Strategis

Mantan Perdana Menteri Ehud Barak menulis artikel terpisah yang tak kalah tajam. Ia mengakui bahwa musuh-musuh Israel memang menderita pukulan menyakitkan, tetapi menegaskan bahwa tidak satu pun tujuan perang tercapai.

  • Hamas masih bertahan di Gaza.
  • Hizbullah tetap kuat di Lebanon.
  • Rezim Teheran selamat dari serangan gabungan Israel–AS.
  • Ancaman nuklir dan rudal balistik Iran belum dihilangkan.

Barak menyebut kondisi ini sebagai “kegagalan strategis dan politik yang parah”. Menurutnya, Israel dan Amerika Serikat seharusnya menang, tetapi kenyataan menunjukkan sebaliknya.

Israel Tunduk pada Amerika?


Barak juga menyoroti hubungan Israel–AS. Ia mengatakan Israel kini menjadi “negara yang tunduk kepada Amerika Serikat”, dengan Washington memaksakan keputusan operasional dan diplomatik melalui arahan keras—bahkan terkadang memalukan.

Kritik ini memperlihatkan dilema besar: Israel memang bergantung pada dukungan AS, tetapi ketergantungan itu dianggap mengikis kedaulatan dalam pengambilan keputusan militer.

Data Perang: Korban dan Gencatan Senjata

Sejak 2 Maret, kampanye militer Israel terhadap Lebanon menewaskan 2.294 orang, melukai 7.544 orang, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi. Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan gencatan senjata 10 hari pada Kamis lalu.

Sementara itu, perang Israel–Iran yang dimulai 28 Februari menewaskan lebih dari 3.000 orang. Washington dan Teheran akhirnya mengumumkan gencatan senjata dua minggu pada 8 April, dengan mediasi dari Pakistan. Harapannya, gencatan senjata ini bisa membuka jalan menuju kesepakatan damai.

Analisis: Krisis Kepemimpinan Netanyahu

Kritik dari Halutz, Yaalon, dan Barak bukan sekadar opini pribadi. Mereka adalah tokoh yang pernah berada di jantung kekuasaan Israel.

  • Halutz: mantan Kepala Staf Angkatan Darat.
  • Yaalon: mantan Menteri Pertahanan.
  • Barak: mantan Perdana Menteri sekaligus mantan Kepala Staf.

Ketiganya memiliki kredibilitas tinggi dalam menilai strategi militer dan politik. Kritik mereka memperlihatkan krisis kepemimpinan Netanyahu, yang dianggap lebih mementingkan kekuasaan pribadi daripada kepentingan nasional.

Israel sedang menghadapi ujian besar. Kritik dari mantan pejabat senior memperlihatkan bahwa pemerintahan Netanyahu dianggap gagal, baik dalam mengelola negara maupun dalam strategi perang melawan Iran.

Dengan korban ribuan jiwa dan jutaan pengungsi, serta ancaman yang tetap ada, Israel kini berada di persimpangan jalan. Apakah akan terus melanjutkan kebijakan militer yang dianggap gagal, atau membuka ruang bagi diplomasi dan perubahan kepemimpinan?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama