Trump Desak Peran Aktif Beijing di Tengah Kebuntuan Konflik AS-Iran
WASHINGTON – Presiden Donald Trump secara terbuka meminta China untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Teheran guna mengakhiri konflik bersenjata yang telah mengguncang Timur Tengah sejak akhir Februari lalu. Meski menyatakan tidak merasa dikhianati oleh sikap Beijing saat ini, Trump menegaskan bahwa pemerintahan Xi Jinping memiliki pengaruh yang jauh lebih besar untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi putaran kedua yang dimediasi oleh Pakistan. Washington dan Teheran masih terjebak dalam saling tuding mengenai tuntutan prasyarat yang dianggap tidak masuk akal oleh masing-masing pihak. Perang yang pecah pada 28 Februari tersebut kini telah memasuki fase atrisi yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
Ekspektasi di Tengah Kedekatan Diplomatik
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News, Trump memberikan penilaian yang terukur namun tajam mengenai keterlibatan China. Sebagai sekutu terdekat Iran selain Rusia, posisi Beijing dianggap sangat strategis. Trump mengakui adanya bantuan kecil dari China, namun ia merasa kekuatan raksasa ekonomi Asia itu belum dikerahkan sepenuhnya untuk menjinakkan ambisi Teheran.
"Saya rasa China membantu sedikit, tapi mungkin tidak sebanyak yang mereka bisa lakukan," ujar Trump kepada Fox News, sebagaimana dikutip dari Anandolu Agency. Kalimatnya mencerminkan rasa frustrasi yang halus. Ia tidak melabeli sikap China sebagai sesuatu yang buruk, namun ada ekspektasi eksplisit bahwa negara penyerap minyak terbesar dunia itu seharusnya lebih proaktif demi kepentingan stabilitas global.
Perbandingan Paradoks Bantuan Militer
Menariknya, Trump sempat membandingkan posisi China dengan keterlibatan AS dalam krisis internasional lainnya. Ia merujuk pada dukungan masif yang diberikan Washington kepada Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Di mata Trump, bantuan AS kepada sekutu bersifat totalitas, sementara China dinilai masih setengah hati dalam menengahi sekutu dekatnya di Timur Tengah.
Logika ini digunakan untuk menekan Beijing agar tidak hanya menjadi penonton dalam konflik yang kini melambungkan harga komoditas global. Namun, Trump tetap menjaga nada bicaranya agar tidak merusak hubungan bilateral menjelang agenda penting di Asia Timur.
Pertemuan Puncak Beijing dan Kartu Truf Energi
Upaya diplomasi ini akan mencapai puncaknya pada 14-15 Mei mendatang. Trump dijadwalkan terbang ke Beijing untuk menemui Xi Jinping, sebuah kunjungan bersejarah karena merupakan lawatan pertama Presiden AS ke China dalam hampir satu dekade. Pertemuan yang sempat tertunda akibat pecahnya perang pada Februari ini akan menjadi panggung utama untuk membahas perdagangan dan stabilitas geopolitik.
Isu energi diprediksi akan menjadi kartu truf bagi Amerika Serikat. Dengan nada percaya diri, Trump menyoroti ketergantungan China pada impor minyak untuk menggerakkan mesin ekonominya, sebuah kerentanan yang tidak dimiliki oleh AS.
"Dia (Xi Jinping) adalah seseorang yang membutuhkan minyak. Kami tidak," tegas Trump.
Pernyataan ini bukan sekadar bualan, melainkan pengingat bahwa gejolak pasar minyak akibat perang dengan Iran dan ketegangan di Venezuela akan memberikan beban lebih berat kepada Beijing. Dengan posisi AS sebagai eksportir neto energi, Trump merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk memaksa China bertindak lebih konkret dalam meredam agresivitas Iran sebelum krisis energi dunia semakin memburuk.
.png)