Jenewa Memanas! Ukraina Gebrak Meja Tolak Syarat Damai dari Rusia
Perundingan damai Rusia–Ukraina di Jenewa memanas! Ukraina menolak syarat damai Rusia, Zelensky kritik tekanan AS. Dunia menunggu hasil negosiasi.
Jenewa, Swiss (Februari 2026) – Dunia kembali diguncang oleh drama diplomasi tingkat tinggi. Perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang digelar di Jenewa, dengan Amerika Serikat sebagai mediator, berubah menjadi panggung penuh ketegangan. Delegasi Ukraina menolak mentah-mentah syarat damai yang diajukan Moskow, sementara tekanan dari Washington justru membuat suasana semakin panas.
Serangan Odesa: Bukti Rusia Tak Serius?
Menjelang perundingan, Rusia melancarkan serangan udara ke kota pelabuhan Odesa. Serangan ini merusak jaringan listrik, memutus pasokan air bersih, dan membuat puluhan ribu warga kehilangan akses pemanas di tengah musim dingin. Ukraina menilai langkah ini sebagai bukti nyata bahwa Moskow tidak sungguh-sungguh mencari perdamaian.
Presiden Volodymyr Zelensky menegaskan, “Kami tidak datang ke Jenewa untuk menyerah. Damai hanya mungkin jika Rusia menghentikan agresi dan menarik pasukan.” Pernyataan ini menjadi sorotan utama, memperlihatkan sikap keras Ukraina yang menolak kompromi atas kedaulatan.
Amerika Serikat di Posisi Sulit
Presiden AS Donald Trump hadir sebagai mediator, namun sikapnya menuai kritik. Zelensky menilai Washington terlalu menekan Kyiv agar segera mencapai kesepakatan, sementara tuntutan kompromi lebih banyak diarahkan ke Ukraina ketimbang Rusia. Hal ini menimbulkan kesan bahwa AS ingin cepat menutup konflik demi stabilitas global, meski dengan risiko mengorbankan kepentingan Ukraina.
Putaran Negosiasi yang Berlarut
Perundingan di Jenewa sudah memasuki putaran ketiga. Namun hasil konkret belum tercapai. Rusia tetap bersikeras dengan syarat yang dianggap berat, sementara Ukraina menolak tunduk. Situasi ini membuat banyak pengamat menilai bahwa peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang kesepakatan.
Dampak Global: Energi, Ekonomi, dan Keamanan
Konflik Rusia–Ukraina bukan hanya soal dua negara. Dunia ikut merasakan dampaknya. Harga energi melonjak, jalur perdagangan terganggu, dan ketegangan geopolitik merembet ke kawasan lain. Negara-negara Eropa khawatir akan gelombang pengungsi baru, sementara NATO terus memperkuat posisi militernya di perbatasan timur.
Analisis: Jalan Damai Masih Panjang
Banyak analis menilai bahwa perundingan di Jenewa hanyalah awal dari proses panjang. Selama Rusia masih melancarkan serangan di lapangan, sulit membayangkan adanya kesepakatan damai yang tulus. Ukraina jelas tidak mau mengorbankan kedaulatan, sementara Rusia ingin memastikan pengaruhnya tetap kuat.
Kini, mata dunia tertuju pada Jenewa. Apakah perundingan ini akan melahirkan kesepakatan bersejarah, atau justru membuka babak baru konflik yang lebih panas? Satu hal yang pasti: Ukraina sudah menunjukkan bahwa mereka tidak akan tunduk pada syarat damai yang dianggap merugikan.

