Buka Puasa Ramadan di Reruntuhan Gaza: Iftar Bersama di Tengah Kehancuran!

Warga Gaza melaksanakan buka puasa Ramadan pertama 2026 di tengah reruntuhan masjid, simbol keteguhan iman setelah perang.

Gaza City, 18 Februari 2026 – Senja Ramadan turun di Gaza, namun suasana berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada masjid megah yang penuh cahaya, tidak ada meja panjang penuh hidangan. Yang ada hanyalah puing-puing bangunan, reruntuhan masjid, dan warga Palestina yang duduk bersama di atas tanah berdebu, berbagi makanan sederhana untuk berbuka puasa.

Iftar di Tengah Puing

Puluhan hingga ratusan warga Gaza berkumpul di reruntuhan bangunan yang hancur akibat perang. Yayasan IHH Turki menggelar acara buka puasa bersama, menyediakan makanan untuk warga yang kehilangan rumah dan keluarga. Di antara dinding retak dan lantai penuh debu, mereka tetap melaksanakan tradisi Ramadan dengan penuh keteguhan iman.

Masjid yang Hilang, Spirit yang Bertahan
Masjid-masjid besar seperti Al-Hassaina kini tinggal puing. Kubahnya runtuh, halaman yang dulu ramai kini dipenuhi jemuran pakaian dan tenda darurat. Namun, warga Gaza tetap menjadikan tempat itu sebagai ruang ibadah dan berbuka bersama.

Ramadan di Bawah Gencatan Senjata Rapuh

Ramadan kali ini berlangsung di bawah bayang-bayang gencatan senjata yang rapuh. Infrastruktur rusak, kebutuhan dasar terbatas, dan ancaman konflik masih menghantui. Meski begitu, warga Gaza tetap berusaha menjaga tradisi, menjadikan iftar bersama sebagai simbol harapan dan kebersamaan.

Simbol Keteguhan
Bagi dunia, pemandangan warga Gaza yang berbuka puasa di reruntuhan adalah simbol keteguhan iman. Mereka menunjukkan bahwa meski perang merenggut nyawa dan menghancurkan rumah, semangat spiritual tidak bisa dipadamkan. Ramadan di Gaza menjadi pengingat bahwa harapan bisa tumbuh bahkan di atas puing-puing.
LihatTutupKomentar