Eskalasi Berdarah di Selat Bab al-Mandeb: Serangan Houthi ke Kilang Minyak Saudi Picu Pertempuran Terhebat sejak 2022
Eskalasi Berdarah di Selat Bab al-Mandeb: Serangan Houthi ke Kilang Minyak Saudi Picu Pertempuran Terhebat sejak 2022
RIYADH – Arab Saudi bersiap melancarkan aksi balasan militer usai gelombang rudal balistik dan drone tempur milisi Houthi menghantam instalasi energi di wilayah selatan Kerajaan, Selasa. Serangan lintas batas ini menorehkan sedikitnya 73 korban luka dan memicu kebakaran hebat di sejumlah fasilitas raksasa minyak state-owned Aramco. Ini menjadi eskalasi militer terparah sejak gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) runtuh.
Aksi saling gempur meletus setelah milisi yang disokong Teheran tersebut secara simultan membombardir wilayah Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Di saat bersamaan, pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi Riyadh menggelar operasi darat skala besar untuk merebut kembali jalur pelayaran strategis di pesisir Laut Merah.
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, mengeklaim gempuran terhadap infrastruktur vital Saudi—termasuk area kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel per hari—merupakan pembalasan atas serangan udara koalisi di provinsi al-Jawf, al-Bayda, Marib, dan Taiz.
Meskipun menepis tuduhan bahwa pihaknya mengincar warga sipil, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan al Saud secara tegas mengutuk aksi tersebut saat menggelar konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Moskow.
"Kelompok Houthi secara sengaja mengorbankan stabilitas Yaman demi agenda sempit mereka," tegas Pangeran Faisal. "Jalan diplomasipun belum sepenuhnya tertutup. Namun, Kerajaan tidak akan ragu menggunakan seluruh instrumen pertahanan untuk melindungi wilayah dan warga negara kami."
Perebutan Jalur Laut Merah di Tengah Penutupan Selat Hormuz
Eskalasi pertempuran darat dan udara ini berpusat di sekitar Selat Bab al-Mandeb, koridor maritim sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Nilai strategis selat ini melonjak drastis setelah Iran memblokir Selat Hormuz. Kondisi tersebut memaksa Riyadh mengalihkan arus ekspor minyak mentahnya secara masif melalui jalur pelayaran Laut Merah.
Data perdagangan energi menunjukkan volume pengiriman minyak mentah Saudi melalui Bab al-Mandeb membengkak hingga delapan kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada situasi normal, jalur ini dilintasi sekitar 4,1 juta barel minyak dan produk olahan petroleum per hari—menyuplai hampir 5 persen kebutuhan energi dunia.
"Pertempuran di pesisir barat bukan sekadar perebutan teritorial di darat," ungkap Ahmed Nagi, Analis Senior Afrika Barat dan Timur Tengah di International Crisis Group. "Houthi berupaya mengunci akses maritim di Bab al-Mandeb untuk mempertahankan daya tawar geopolitik mereka di Laut Merah saat Teheran memegang kendali atas Hormuz."
Bencana Kemanusiaan Baru di Tengah Perebutan Kota Sanaa
Operasi balasan pasukan pemerintah Yaman—yang dipimpin Dewan Kepresidenan di bawah Rashad al-Alimi—kini bergerak maju menuju pegunungan al-Labanat di al-Jawf dan distrik Dhi Na'im di al-Bayda. Pemerintah mengorbankan seluruh kekuatan tempurnya dengan ambisi utama merebut kembali ibu kota Sanaa yang dikuasai Houthi sejak 2014.
Namun, harganya harus dibayar mahal oleh warga sipil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sedikitnya 728 orang tewas atau terluka dalam rentang dua pekan terakhir. Gelombang pengungsian massal meletus hebat; Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat lebih dari 21.000 warga melarikan diri dari medan pertempuran Taiz tanpa membawa perbekalan maupun tempat bernaung.
Analis politik memperingatkan bahwa opsi penaklukan militer secara penuh atas Sanaa hanya akan memicu pertumpahan darah yang tidak terkelola. Kendati pemerintah Yaman berada pada posisi tempur yang lebih menguntungkan di beberapa front, Houthi terbukti masih memiliki daya pukul balik yang mematikan. Penyelesaian konflik Yaman pada akhirnya tetap membutuhkan kompromi politik ketat ketimbang kemenangan mutlak di medan perang.
.png)
Posting Komentar untuk "Eskalasi Berdarah di Selat Bab al-Mandeb: Serangan Houthi ke Kilang Minyak Saudi Picu Pertempuran Terhebat sejak 2022"