Popularitas Trump Anjlok ke Titik Terendah 33 Persen Akibat Sengketa Teluk dan Lonjakan Biaya Hidup
WASHINGTON – Tingkat kepuasan publik (approval rate) terhadap kinerja Presiden Donald Trump merosot tajam ke angka 33 persen, menyentuh level terendah selama masa jabatannya. Penurunan elektabilitas ini dipicu oleh kecemasan masif masyarakat Amerika Serikat atas potensi keterlibatan militer berkepanjangan di Timur Tengah, berdasarkan hasil jajak pendapat nasional Reuters/Ipsos yang ditutup pada Senin (17/8/2026).
Baca Juga Blokade Selat Hormuz Berlanjut: Teheran Tuntut AS Penuhi Syarat Kesepakatan Sementara
Survei yang berlangsung selama empat hari terhadap 1.166 responden dewasa tersebut mencatat sebanyak 64 persen warga menyatakan tidak puas atas kepemimpinan Gedung Putih saat ini. Capaian 33 persen ini turun dari posisi 35 persen pada awal bulan dan kini menyamai rekor terburuk yang pernah dicatat Trump pada periode kepresidenan pertamanya, Desember 2017 silam.
Bayang-Bayang Perang Panjang dan Beban Finansial Warga
Goncangan popularitas ini terjadi setelah aksi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran berdampak langsung pada terhentinya seperlima distribusi minyak global di Selat Hormuz. Janji kampanye awal yang mengklaim perang dapat diselesaikan dalam beberapa pekan sirna setelah konflik berlarut-larut. Akibatnya, lonjakan harga bahan bakar melambung tinggi dan menghantam domestik AS—memicu kekhawatiran sekitar 80 persen warga Amerika bahwa konflik di Teluk akan berlangsung dalam jangka panjang.
Meskipun Trump mempertahankan argumentasi politiknya dalam rapat umum di Garden City, New York, bahwa kenaikan harga bensin merupakan harga yang sepadan demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir, publik tampaknya enggan menerima alasan tersebut. Hasil jajak pendapat mengonfirmasi hanya satu dari lima warga AS yang menganggap operasi militer tersebut sepadan dengan risiko ekonomi yang harus ditanggung.
Isu Ekonomi Bergeser dan Keresahan Menjelang Pemilu
Pergeseran sentimen ini berdampak langsung pada persepsi publik terhadap tata kelola ekonomi. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir satu dekade, pemilih AS lebih memercayai Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik dalam mengelola isu perekonomian dan menekan biaya hidup. Sebanyak 38 persen responden menilai Demokrat memiliki strategi ekonomi yang lebih baik, mengungguli Partai Republik yang hanya memperoleh 35 persen dukungan.
Baca Juga Ancaman Tarif 50% AS Membayangi Kanada: Negosiasi Perdagangan Terancam Buntu
Bahkan pada isu imigrasi yang selama ini menjadi benteng politik utama Trump, keunggulan Partai Republik terkikis drastis. Selisih dukungan yang sempat mencapai 26 poin persentase pada Januari 2025 kini menyusut tajam menjadi hanya 2 poin persentase, akibat maraknya sorotan terhadap peningkatan penahanan migran dan dinamika keamanan di batas wilayah. Kebuntuan di Timur Tengah dan gejolak ekonomi dalam negeri ini kian memperbesar tantangan politik bagi Partai Republik untuk mempertahankan kendali di Kongres AS.
