Blokade Selat Hormuz Berlanjut: Teheran Tuntut AS Penuhi Syarat Kesepakatan Sementara
DUBAI – Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup total bagi lalu lintas kapal internasional hingga Amerika Serikat memenuhi seluruh komitmen yang tertuang dalam nota kesepahaman bulan Juni lalu. Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa keputusan pembukaan kembali rute maritim tersebut sepenuhnya berada di tangan Washington. Pernyataan tegas ini disampaikan Qalibaf di hadapan parlemen Teheran pada Selasa (18/8/2026), memperpanjang ketidakpastian logistik di kawasan Teluk.
Syarat yang diajukan Teheran mencakup pembebasan blokade angkatan laut AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran, pembatalan sanksi ekspor minyak, pengembalian aset keuangan yang dibekukan, serta penghentian seluruh ancaman maupun operasi militer di semua lini. Tanpa pemenuhan prasyarat tersebut, Teheran menolak membuka kembali perairan strategis yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum pecahnya konflik.
Baca Juga Ancaman Tarif 50% AS Membayangi Kanada: Negosiasi Perdagangan Terancam Buntu
Keruntuhan Kesepakatan Juni dan Buntu Diplomasi
Landasan kesepakatan yang ditandatangani pada 17 Juni lalu sejatinya menetapkan tenggat waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merumuskan perjanjian damai permanen, termasuk pembahasan masa depan program nuklir Iran. Namun, komitmen penghentian perselisihan tersebut runtuh secara drastis akibat perebutan hak kelola navigasi di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump secara sepihak menyatakan pakta tersebut berakhir pada 7 Juli, yang kemudian disusul oleh penangguhan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran seminggu setelahnya.
Berakhirnya masa berlaku dokumen kerja sama tanpa adanya perpanjangan waktu telah membawa interaksi kedua negara ke titik terendah. Tidak adanya titik temu di meja perundingan memicu kebuntuan jalur diplomasi yang kian sulit diurai, terutama setelah Washington menolak opsi perpanjangan waktu yang diajukan para mediator regional.
Iran Beralih ke Postur Militer Ofensif
Di tengah kegagalan upaya damai, Teheran kini bersiap menghadapi skenario terburuk dengan memperketat barisan militernya di sepanjang garis pantai perbatasan. Otoritas Iran mengonfirmasi bahwa seluruh kekuatan pertahanan negara telah diinstruksikan untuk bergeser ke doktrin "sepenuhnya ofensif" guna mengantisipasi kemungkinan eskalasi lanjutan dari pihak lawan.
Baca Juga Ancaman Tarif 50% AS Membayangi Kanada: Negosiasi Perdagangan Terancam Buntu
Peralihan postur pertahanan ini menjadi sinyal peringatan keras bagi keamanan maritim dan stabilitas ekonomi global. Dengan ditutupnya Selat Hormuz secara berkepanjangan serta kesiapan armada tempur kedua belah pihak di perbatasan, pasar energi internasional diperkirakan akan terus menghadapi tekanan inflasi dan ancaman krisis pasokan dalam waktu dekat.
