Perang Iran Mengubah Peta Aliansi Timur Tengah: Xi Jinping Garap Kemitraan Strategis di Mesir
Perang Iran Mengubah Peta Aliansi Timur Tengah: Xi Jinping Garap Kemitraan Strategis di Mesir
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyambut langsung Xi di Bandara Internasional Kairo dalam upacara kehormatan karpet merah yang diapit jajaran prajurit militer, tarian tradisional, serta kibaran bendera kedua negara. Penyambutan megah ini menandai penguatan hubungan diplomatik yang telah terjalin selama 70 tahun, di mana Mesir memegang posisi bersejarah sebagai negara Arab dan Afrika pertama yang mengakui kedaulatan Tiongkok.
Baca Juga Uni Eropa Siapkan Misi Pelatihan Militer Lebanon untuk Ambil Alih Wilayah Kekuasaan Hizbullah
Melalui tulisan opininya di surat kabar nasional Al-Ahram, Sisi menyebut Mesir dan Tiongkok sebagai mitra sejajar yang berkomitmen memperkuat posisi tawar negara-negara berkembang (Global South) dalam konstelasi politik internasional.
Ekspansi Industri Pertahanan dan Latihan Militer Bersama
Kunjungan diplomatik ini menyusul eskalasi kerja sama pertahanan yang kian intensif. Bulan lalu, Mesir—yang menerima alokasi bantuan militer AS sekitar $1,3 miliar (sekitar Rp21 triliun) per tahun—menggelar latihan militer gabungan kedua bersama Tiongkok.
Latihan tempur udara tersebut mencatat pengerahan perdana jet tempur J-16 milik Tiongkok ke daratan Afrika. Pertemuan taktis ini turut melibatkan simulasi pertempuran udara antara armada buatan Beijing dan jet Rafale rakitan Prancis, lengkap dengan atraksi pengisian bahan bakar di udara oleh pesawat tanker Tiongkok terhadap jet tempur buatan Barat.
Langkah ini memberi kesempatan langka bagi teknolog pertahanan Beijing untuk mempelajari karakteristik serta performa alutsista standar NATO secara langsung di lapangan.
Otonomi Strategis Kairo di Tengah Keraguan atas Washington
Kemitraan Kairo dan Beijing sejatinya telah dirintis sejak 2014 saat Sisi menandatangani perjanjiian kerja sama strategis di Beijing. Namun, eskalasi konflik di Gaza dan Iran memicu keraguan serius atas efektivitas Amerika Serikat sebagai pelindung keamanan jangka panjang, yang pada akhirnya mendorong Mesir mengejar diversifikasi aliansi.
"Mesir bergerak menuju otonomi strategis yang lebih mandiri," kata H.A. Hellyer, peneliti senior di Royal United Services Institute. "Kairo ingin menjaga hubungan erat dengan Washington, tetapi di saat bersamaan merangkul Beijing, Moskow, dan Uni Eropa."
Sebagai penguasa jalur pelayaran vital Terusan Suez yang berbatasan langsung dengan kawasan bergejolak seperti Israel, Sudan, dan Libya, Mesir memegang peranan geopolitik kunci. Kairo menjadi pusat gravitasi bagi Beijing yang berniat memperluas pengaruh ekonomi serta militernya di Asia Barat dan Afrika.
Pintu Masuk Investasi Teknologi dan Sektor Energi Future-Proof
Investasi Tiongkok di Mesir terus membengkak dalam beberapa tahun terakhir. Modal bernilai miliaran dolar AS mengalir deras ke sektor-sektor strategis, mulai dari manufaktur, pengelolaan pelabuhan komersial, hingga proyek transisi energi seperti pembangkit listrik tenaga surya, hidrogen hijau, dan pengoperasian teknologi satelit.
Baca Juga Mojtaba Khamenei: Menyerukan Persatuan Muslim di Tengah Perang Berlarut
Rangkaian agenda Xi di Mesir merupakan bagian dari tur diplomatik global setelah sebelumnya menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kyrgyzstan untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, serta menjamu Raja Abdullah dari Yordania di Beijing. Setelah menyelesaikan agendanya di Kairo, Xi dijadwalkan melanjutkan perjalanan diplomasinya menuju India dan Amerika Serikat akhir bulan ini.
.png)
Posting Komentar untuk "Perang Iran Mengubah Peta Aliansi Timur Tengah: Xi Jinping Garap Kemitraan Strategis di Mesir"